Suatu hari di bulan September 2022, saat bertemu Rahma di JCC Senayan pada event Travel Fair.
"Ndah, gw mau traveling ke Vietnam. Mau ikutan gak?"
"Sama siapa aja?"
"Kalau kamu ikut berarti bertiga. Yang satunya lagi namanya Andini."
"Kapan?"
"Rencananya November atau Desember gitu deh."
"Hmm, mepet ya waktunya."
"Gw juga belum beli tiket kok. Kalau kamu mau nanti kita barengan aja beli tiketnya."
"Hmm, oke deh."
Dua minggu kemudian...
"Ndah, gw mau beli tiket nih. Mau sekalian gak?"
"Oke, nanti kutransfer ya."
Lalu sehari kemudian sinyal di kepala saya baru ngasih tau "Woyyy.. memangnya celengan ayamnya cukup buat ngetrip ke Vietnam?? Rencananya 2 minggu lho itu tripnya. Mana waktunya kurang dari 1 bulan juga kan."
Astagaaaa!! Tepok jidat bolak-balik. Apalagi buat saya, ini adalah trip dengan durasi terlama tapi dengan jangka waktu perencanaan terpendek.
Tapi apa daya, tiket sudah dibeli, grup WA 'Vietnam Trip' pun sudah dibentuk, itinerary trip juga sudah disusun. Ya sudahlah, mari kita berangkat sajalah. *brb cairin celengan ayam*
Baca juga: Kerja dan Traveling Tetap Lancar di 3 Negara Berkat Javamifi
Huru-Hara Sebelum Traveling ke Vietnam
Dengan rencana awal akan berangkat di tanggal 9 November, ternyata sekitar 10 hari sebelum keberangkatan jadwal pesawat kita direschedule oleh pihak Scoot. Saya dan Rahma masih beruntung direschedule ke tanggal yang sama, yaitu tanggal 10 November sore hari karena tiket kami satu kode booking. Namun beda dengan Andini, tiketnya tidak hanya direschedule tapi juga dipindah ke tanggal 11 November.
Setelah negosiasi alot dengan Traveloka, akhirnya pesawat kami bertiga bisa berangkat di tanggal yang sama pada 10 November pagi. FYI. Tiket kami adalah tiket Jakarta - Hanoi dengan transit di Singapura selama 24 jam.
Sayangnya, kami sudah booking hostel di Singapura dan ini tidak bisa direschdule ke tanggal 10. Tiket kami tetap transit di Singapura tapi berkurang menjadi 19 jam. Akhirnya kita bertiga sepakat akan keluar sebentar menelusuri Singapura hingga pukul 9 malam, lalu balik ke bandara dan bermalam di sana.
Numpang tidur ngemper di bandara Changi Singapore, saat transit trip ke Vietnam |
Selain itu, penerbangan kami adalah budget airline tanpa bagasi. Alhasil beberapa hari sebelumnya kami sibuk menimbang barang bawaan masing-masing demi bisa masuk kabin. Saya yang paling bingung soal barang bawaan karena harus membawa laptop yang punya bobot lebih dari 1,5 kilogram dan kamera (beserta chargernya) yang ternyata menyentuh angka 2,3 kg.
Semalam sebelum berangkat rasanya kamera pengen saya tinggal, tapi ya kok gak rela. Jadinya putar otak dan akal supaya bisa lolos saat check in nanti. Alhamdulillah lolos, karena kamera saya gantung di dalam jaket tebal yang saya pakai beserta beberapa charger dan printilannya. Kayaknya sudah saatnya ganti kamera mirroless yg lebih ringan dan kecil deh. *brb colek-colek sponsor kamera*
Itinerary 5 Kota
Selama beberapa minggu kami berdiskusi soal kota mana saja yang ingin dijelajahi di Vietnam. Alhasil kami sepakat untuk mengunjungi kota Sapa, Hanoi, Nin Binh, Hoi An, dan Da Nang. Masing-masing kota ini dipilih karena punya karakteristiknya masing-masing
Sapa, merupakan kota di lembah pengunungan dengan gunung Fansipan yang menjulang setinggi 3142 mdpl. Di musim terdinginnya, beberapa areanya bisa diselimuti salju, sehingga menjadikan kota ini satu-satunya kota bersalju di Asia Tenggara.
Hanoi, sudah barang tentu terkenal sebagai ibukota negara Vietnam yang merupakan kota terpadat dan terbesar di Vietnam.
Nin Binh, kawasan kota di lembah sungai dan terkenal dengan sebutan "Halong Bay on Land". Di area ini terkenal dengan deretan perbukitan di sepanjang sungai yang berkelok-kelok dan beberapa gua alam yang menarik.
Hoi An, kawasan kota tua yang antik dan sarat akan sejarah. Perpaduan antara kota tua dan tradisi masyarakatnya masih bisa terlihat jelas di jalan-jalan kotanya.
Da Nang, kota di tepi laut Cina Selatan dan merupakan kota paling modern di Vietnam. Di sini, gedung-gedung pencakar langit lebih mendominasi dengan jalan raya dan trotoar lebar ciri khas kota besar.
Pilah-Pilih Transportasi
Secara kami akan menghabiskan waktu hampir 10 hari di Vietnam, dan kami bertiga memang tipikal para pejalan santai, kami memutuskan untuk menggunakan tranportasi umum seperti bus dan kereta. Tapi pilihan itu juga fleksibel sih, tergantung situasi dan kondisi di lapangan.
Awalnya kami berencana akan menginap semalam di Hanoi lalu keesokan harinya menggunakan sleeper bus malam untuk menuju ke Sapa. Namun berhubung akibat reschedule pesawat, kami tiba di Hanoi pada siang hari dan harus langsung menuju ke Sapa agar bookingan hotel disana tidak mubazir 1 malam. Beruntung bookingan hotel di Hanoi bisa dibatalkan tanpa biaya alias gratis. Cukup bookingan hostel di Singapura aja yang hangus kk..
Lagipula, keesokan paginya kami berencana naik ke gunung Fansipan dan setelah ngemper di Changi semalaman, tentu saja kami harus beristirahat dengan baik sebelum aktifitas naik gunung. Jangan sampai jatuh sakit karena kelelahan di kota pertama.
Akhirnya, pilihan bus private pun dipilih karena itu satu-satunya pilihan bus di siang hari. Sleeper bus rata-rata berangkat di jam 8-9 malam waktu setempat. Dari Sapa kembali ke Hanoi kami menggunakan sleeper train selama 6 jam.
Dari Hanoi menuju Nin Binh menggunakan bus travel selama 2-3 jam, lalu dari Nin Binh menuju Da Nang dengan menggunakan sleeper train selama kurang lebih 12 jam.
Kami juga sempat menggunakan Grab saat di Da Nang menuju Hoi An, karena bus umum yang akan kami naiki saat itu ternyata tidak ada, entah memang sudah dihentikan operasinya atau masih vakum akibat pandemi dan belum beroperasi lagi.
Pilihan Akomodasi
Karena kami bertiga, sudah barang tentu kami berusaha mencari hotel, hostel dan homestay yang bisa menampung kami bertiga di satu kamar private. Alasannya karena kami bertiga ini muslim traveler yang berjilbab, sehingga pilihan kamar ala dorm dirasa kurang nyaman jika ingin beristirahat, apalagi bila harus bolak-balik ke kamar mandi.
Homestay May's House di Hoi An untuk tiga orang |
kamar terbesar dan 3 kasur king size buat masing2 di Tam Coc Sunrise Homestay, Nin Binh |
Selain itu kami juga memilih akomodasi yang memiliki dapur. Harap maklum, mencari makanan halal di Vietnam itu susah, apalagi di beberapa kota yang akan kami datangi pilihan restoran halalnya di bawah 3 resto. Jadi, stok makanan jadi dan makanan instan yang bisa dimasak di dapur pun menjadi logistik utama kami.
Tempat tidur di kamar yang kami dapatkan biasanya 2 tempat tidur ukuran king size. Jadi, secara berkala kami akan bergantian tidur berdua dan sendirian di satu tempat tidur. Alhamdulillah di Nin Binh, karena perkara toilet kamar yang lagi direnovasi, kamar kami di upgrade dan mendapatkan kamar yang cukup luas dengan 3 kasur ukuran king size!!! Akhirnya bisa guling-guling di kasur masing-masing. Wkwkwkwk.
Mencari Makanan Halal
Saat di Hanoi, setelah menitipkan tas di agen travel bus, kami berkeliling untuk mencari makan siang. Kebetulan saat turun dari bus kota, kami melewati sebuah restoran kebab sehingga sudah kami tandai tuh restoran untuk makan makan siang di sana.
BUKAN restoran makanan halal di Hanoi, Vietnam |
Ternyata, pas lihat menunya, restoran kebab itu bukan restoran halal, mereka menyajikan kebab daging babi saudara-saudara. Jadi ini restoran kebab dengan kearifan dan citarasa lokal euy. Yasudahlah.. Akhirnya beli buah saja lalu melipir masuk cafe buat minum kopi dan jus.
Di kota Sapa, ternyata kami tidak menemukan restoran berlabel halal. Ada satu restoran yang tidak sengaja kami lihat berlabel halal, tapi ternyata tutup, entah memang sedang libur hari itu, atau memang tutup selamanya, saya tidak tahu. Akhirnya mbak-mbak penjual jagung dan ubi bakar di pinggir jalan serta sebuah restoran vegan jadi pilihan aman untuk makan.
Saat di Nin Binh, akhirnya bisa bersorak gembira karena ada 2 restoran halal di kota ini, dimana keduanya merupakan restoran India, dan, 2-2nya buka dong. Alhamdulillah ya. Letaknya pun di pinggir jalan utama sehingga mudah dilihat dan ditemui.
Saat di Hoi An, kami sempat melihat ada satu restoran berlabel halal di jalanan kota tuanya. Tapi setelah kami masuk ke restoran tersebut, restoran ini juga ternyata menyajikan daging babi. Lalu kenapa bisa ada label halalnya??
Mungkin karena melihat kami bertiga sebagai muslim traveler yang berjilbab masuk ke restoran ini, chefnya langsung mendatangi kami dan menjelaskan bahwa di restoran itu ada 2 dapur terpisah sehingga proses pengolahan makanan halal benar-benar terpisah dari menu lain yg mengandung babi. Mereka juga katanya sudah diinspeksi dan dianggap layak mendapatkan sertifikat dan label halal itu.
Sayangnya menu halal di restoran ini cuma ada sekitar 7-5 menu saja di mana 3 menunya adalah roti prata dan harganya lumayan pricey dibandingkan restoran halal lain yang pernah kami datangi di kota lain.
Di Da Nang, kami akhirnya bisa makan kuliner asli Vietnam yang halal di sebuah restoran milik seorang penduduk muslim Vietnam. Meski jaraknya lumayan jauh dari penginapan, tapi begitu melihat semangkok besar pho di depan mata, rasanya kelelahan setelah berjalan hampir 30 menit langsung menghilang.
Wajah-wajah bahagia setelah menemukan pho halal di malam terakhir di Vietnam Restoran Halal Karim Da Nang |
Menu di restoran ini sebenarnya rata-rata menu khas Malaysia atau Indonesia seperti nasi lemak, nasi goreng dan ayam goreng. Menu Pho sebenarnya tidak tercantum, tapi saat kami menanyakan apakah ada pho, mereka mengiyakan dengan catatan kami mau menunggu selama kurang lebih 30 menit. Tentu saja kami rela menunggu demi semangkok Pho. Penutup trip impulsif ke Vietnam yang menyenangkan bukan?! (EKW)
Kamu 😍😘
ReplyDeleteaku padamu selalu kk...
DeleteSungguh berjasa itu celengan ayam sehingga aku bisa baca tulisan ini deh hehe.
ReplyDeleteAlhamdulillah ya, celengan ayamnya masih awet nih om.. hehehehe
DeleteKalau pergi ke negara yang bukan mayoritas muslim, soal makan emang jadi PR ya apalagi jika gak banyak resto halal. Kudu siap bawa makanan instan buat ganjal perut
ReplyDeleteitulah.. makanya kami bertiga pun bawa beberapa makanan instan seperti oatmeal, kentang mustofa, dan nasi instan. Kalau di TKP mah biasanya nyari telor dan roti deh karena paling mudah ditemukan.
DeleteYa ampuuuun beneran sangaaat impulsif ya Mbaaa 🤣🤣. Aku sendiri pernah sekali trip mendadak kurang dari sebulan , tapi itu Krn pake travel juga. Jadi semuanya udh diatur kan. Ga pusing mikirin printilan.
ReplyDeleteSayang aja si maskapai yg reschedule jadwal seenaknya.. dulu aku pernah pake maskapai yg sama itu, dan direschedule juga pas di HK 🤣🤣.agak kapok jujurnya pake dia lagi 😅
kalau pas masih bikin itinnya sih asli masih pusing banget, tapi pas udah dijalanin sih ternyata tidak semumet itu, ya alhamdulillah perjalanan lancar sih selama di sini.
DeleteYah, namanya juga budget airline, begitulah kebiasaannya.. terima nasib aja dah bongkar pasang itin lagi
Saya pernah baca buku tentang jalan-jalan ke Vietnam. Memang kelihatan menarik untuk dikunjungi. Tetapi, noted banget nih untuk makanannya. Harus bawa makanan juga kayaknya. Jaga-jaga kalau sulit menemukan makanan halal
ReplyDeleteIya mbak, Vietnam tergolong susah nyari makanan halal, tapi kalau di kota-kota besarnya sih biasanya lebih mudah dicari ketimbang kota kecil atau yang jarang dikunjungi turis.
DeleteMakanya makanan instan wajib lah buat stok di perjalanan.
wah seru banget nih, jadi penasaran buat backpackeran ke vietnam karena kayanya bakalan seru dan menyenangkan banget nih pastinya
ReplyDeleteSeru banget mas, cobain deh.. pasti ketagihan pengen ke Vietnam lagi.
DeleteYaampun mbak mepet bgt ya persiapannya. Kalo aku kayaknya butuh min 2 bulan hehe. Tp, tetep bisa seru dan lancar ya meski sempet di reschedule. Makanan nih yg sering jd PR kalo keluar negeri
ReplyDeleteMepet tapi alhamdulillah lancar selalu di perjalanan, meski ada sedikit kendala juga. Makanan memang harus bawa stok sih biar gak bingung klo lagi gak nemu makanan yang bisa dimakan.
DeleteJadi celengan ayamnya isi berapa nih buat trip 5 hari di Vietnam? Susah juga ya nyari makanan halal di sana. Bahkan kebab turkinya pun haram.
ReplyDeleteCelengan ayamnya sedang diisi ulang kembali.. buat destinasi trip berikutnya.. hehehe..
DeleteIya, di Vietnam mesti jeli lihat ada label halalnya atau tidak, biasa bisa tetap aman makan di sana.
whooaaa cukup menantang buat cari makanan halal di Vietnam yah. Udah ada kebab pun masih jual daging babi. Kudu teliti mencarinya.
ReplyDeletebtw, suksesss yak trip impulsif 10 hari ke Vietnam. Untungnya ga pakai visa jadi bisa langsung cusss bongkar celengan ayam.
cari makanan halal di negara minoritas islam itu memang penuh tantangan euy. Makanya minimal harus bawa air minum dan buah kemana-mana supaya perut gak kosong terlalu lama.
DeleteWaahh, noted banget ini cerita jalan-jalan impulsifnya Mba. Ikutan senang juga lihat semangkok besar Pho meski harus jalan 30 menitan, kebayang hepi banget ketemu makanan halal yang enak ^^
ReplyDeleteIya, tiap kali lihat makanan yang bisa kami makan tuh rasanya antara bahagia sekaligus pengen nangis. Hehehe. Pokoke baca doa makanya jadi 10 kali lipat deh.
DeleteSalah satu alasan saya pengen ke vietnam tuh, selain budgetnya gak sebesar negara lain, masih penasaran sama Pho asli vietnam tuh seenak apa. Ini keren banget si Mba, trip dengan rencana mepetnya.
ReplyDeleteGak mepet-mepet juga sih, tapi ya buat saya yg biasanya cuma 3-5 hari traveling, ini lumayan mepet tapi penuh dengan tantangan yang menyenangkan sih. Perjalanannya pun jadi berkesan deh.
DeleteMenarique syekaliii..
ReplyDeleteSabi nih, gapake babibu naninu, lemon aja berangkat bareng bestie..
Rasanya jadi lebih seru, lebih berwarna dan menikmati travelling dengan berbagai warna-warni yang bakalan jadi kenang kenangan.
Iya kak, meski ada drama pesawat di reschedule tapi akhirnya tetap jadi perjalanan yang menyenangkan karena bersama bestie-bestie tercinta ini.
DeleteSat set ya, Kak. Ganpa rencana tapi dah okey duluan. But wal hasil akhirjya tercapai juga ke Vietnam dengan berbagai pengalamannya ya Mbak.
ReplyDeleteTraveling kadang memang harus sat set biar bisa langsung cuss, soalnya kadang kalau kelamaan bikin rencana malah ntar jadinya cuma wacana.
Deletealhamdulillah akhirnya trip ke Vietnam jadi lancar deh.
Aku bacanya ikut berasa deg-degan mba :D Seru banget pengalaman keliling Vietnam-nya. Apalagi bisa ke 5 kota ya, mantaaaps! Alhamdulillah udah ada makanan halal di snaa walaupun gak banyak ya mba..
ReplyDeleteWkwkwk.. terasa vibenya ya. Cari makanan halal memang rada susah, tapi alhamdulillah sih di Vietnam masih mudah menemukan restoran vegan sebagai alternartif makanan buat muslim traveler sih.
Deletebaca kata pengantarnya bikin aku senyum senyum, soalnya aku ya pernah ndadak begitu, mau cairin tabungan, sayang tapi ya terpaksa hahaha
ReplyDeleteintinya, ya kapan lagi mumpung waktunya sempet, kadang kalau nanti-nanti bisa bisa ya belum tau lagi kapan berangkatnya
Hahaha. cairin aja dulu tabungannya, ntar nabung lagi buat trip berikutnya. Daripada nyesal gak jalan, kan mending nyesel tabungan berkurang tp bisa jalan2 kan.. *mencari pembenaran* wkwkwkwk..
DeleteAku penasaran, berapa budget trip selama 2 minggu di Vietnam.
ReplyDeleteSayang ya harus reschedule gitu.
Banyak tempat menarik yang bisa dilihat disana, paling pengen ke Sapa sama ke Da Nang 🤩
Jalan ke Vietnam ngga makan Pho itu rasanya kurang, tapi kok jarang yang jual ya
Sebenarnya di Vietnam mah banyak yang jualan Pho, tapi rata-rata menggunakan daging, minyak atau kaldu dari babi jadi buat para muslim traveler jadi mesti hati-hati kalau ingin makan Pho.
Delete